Welcome to our blog...

Welcome to our blog....

Disini Anda dapat sharing tentang semua hal yg berhubungan dengan bisnis dan investasi.

* Mungkin selama ini Anda mempunyai pertanyaan seputar investasi yang sedang atau akan Anda jalankan, silakan..
* Mungkin Anda mempunyai pengalaman atau tips berbisnis dan berinvestasi, silakan...

Jumat, 24 Juni 2011

When You Trade and Invest, Why Use the Wave Principle?

 
The question: Why use the Wave Principle when trading or investing?
 
The answer: To avoid the herd that usually loses money in the markets.
 
The explanation: Herding makes it difficult to follow the most useful trading advice to buy low and sell high. More often than not, what really happens is that you hear about a stock or an index and decide to buy it because it's in the news. Why is it in the news? Usually because the price has been going higher. Lots of people in the financial media say that it's doing well, so you decide to "get in now" -- even though you know the shares are not at a low. After all, why would people talk up the stock if it were headed down? And you wouldn't really want to buy a stock other people were selling ... would you?
 
Once you buy, one of these three things usually happens:
 
  1. The stock or index continues up for a brief time. You manage to hold on until just after it turns down, and sell so that you get out near the top. (You didn't buy low, but you sold it for more than you paid and made some money.) 
  1. It goes up and then down, and then up and down again -- and again -- while you agonize. You read whatever you can find to help decide whether to stay in or get out. You finally get out about where you got in. (You neither bought low nor sold high, nor did you make any money.) 
  1. It turns down after you purchase it. And it keeps drifting down until you can't stand it anymore. So you sell. (You bought high and sold low; depending on how long you held it, you lost a little or a lot of money.) 
The outcome: Either you win small, you come out even (except for brokerage fees), or you lose either big or small. What happened to the simple and elegant idea of buying low and selling high? Well, that idea vanished in the labyrinth of your quickly turning, emotional mind. When it comes to real-time decisions, it seems nearly impossible to do what you know you should do to make the most money. The irrational mind beats out the rational mind. Welcome to the world of herding.
 
Elliott Wave International's educational guru, Wayne Gorman, explains it this way in the Elliott Wave Crash Course:
 
"The process is being driven by an emotional, unconscious response by investors who look at the market subjectively and impulsively and who must make decisions under conditions of ignorance and uncertainty.… Most people tend to engage in what we call herding. They follow the actions of others, whether those others are on the right side of the market or not.
 
"The result is that prices move up and down according to investors' optimism and pessimism. Investors use the news to rationalize their emotional decisions, and most people lose money."
 
Even the big boys do it. Stock mutual funds tout their investing know-how, yet this chart shows that they also succumb to buying at tops when prices are high and selling at lows. It compares 40 years of the S&P 500's price moves with the changes in stock mutual funds' cash vs. assets ratio. When the percentage of cash is low, it means that the funds are buying stocks and keeping less cash (marked as "Bought" on the chart). When the percentage of cash is high, they are selling stocks and converting to cash (marked as "Sold" on the chart).
 
Gorman again: "Notice that funds are heavily invested in stocks at top of markets and little invested in stocks at major bottom. This pattern tends to repeat itself over time -- and results in losses."
 
The better way to do it: The Wave Principle, on the other hand, provides rules and guidelines to help you avoid the herd of investors, particularly as they react to the latest news. You can see patterns in price charts and decide when a market may be about to turn up or down; you can also plan when to trade or invest with some objectivity.
 
By Susan C. Walker
Wed, 22 Jun 2011
 

Rabu, 22 Juni 2011

Analisa Mingguan by Dar Wong: Sterling di Fase Koreksi, Komoditi Meragukan

Monexnews - Weekly Report (20-24 Juni 2011)


USD/JPY
Pekan lalu, USD/JPY bergerak sekitar 80 pips dalam range rata-rata harian tanpa dorongan berarti. Sekarang pair mata uang tersebut terjebak dalam kisaran 79.50-81.00 di tengah memudarnya tren secara berkala. Kami memperkirakan resisten terdekat berada pada level 80.40, namun ruang untuk koreksi lebih terbuka karena alasan fundamental saat support tadi terpecahkan.  
EUR/USD
EUR/USD pekan lalu menemukan support-nya di level terendah mingguan 1.4073, sebelum akhirnya rebound. Pekan ini, Kami melihat adanya konsolidasi teknikal dalam range sempit antara 1.4200-1.4450, kecuali muncul berita mengejutkan. EUR/USD berada dalam tren koreksi jangka panjang seraya membangun gelombang pemulihan saat ini. Untuk transaksi jangka pendek, abaikan proyeksi beli jika tren anjlok hingga mendekati support 1.4200!
GBP/USD
GBP/USD bergerak kuat di antara 1.6080-1.6100. Poundsterling memiliki resisten terdekat di 1.6230, sedangkan kisaran atas teknikal bisa mencapai sekitar 1.6350 pekan ini. Sterling merosot untuk jangka panjang, namun terlihat peluang untuk menangkap posisi jual pada setiap kenaikan. Kami memperkirakan pemulihan teknikal terjadi pekan ini, long traders harus mengabaikan transaksi bila GBP/USD di luar dugaan jatuh ke bawah 1.6080. 
EMAS 
Harga emas naik pada hari Jumat setelah merespon pemangkasan proyeksi ekonomi Amerika Serikat (AS) tahun 2011 oleh IMF. Dari perspektif teknikal, Kami memandang resisten kuat saat ini di sekitar 1545.00. Pekan ini, hanya faktor fundamental yang bisa mengangkat tren ke atas level tersebut, tentu tanpa melupakan adanya resisten sekunder di level 1553.30. Kami memprediksi penurunan ke sekitar 1520.00 lebih mungkin terjadi daripada konsolidasi teknikal.
MINYAK 
Harga minyak mentah WTI memecah 2 support kuat S1 (96.20) dan S2 (94.20) pekan lalu akibat dampak dari krisis Yunani dan penundaan resolusi pejabat Uni Eropa. Pekan ini, Kami melihat bahwa harga harus kuat di atas support 93.00 di hari Senin. Minyak harus pulih, jika tidak maka ditutup di bawah level tersebut bisa menguji area 90.00 (support utama Kami selanjutnya). Sekarang, harga minyak mentah penuh ketidakpastian, terutama saat data ekonomi penting menunjukkan perlambatan di sektor manufaktur dan pertumbuhan demand.


Disclaimer: This report is written for general information only. No liability by the writers, publisher or any third party involved in the distribution of this work.  

DAR Wong started his trading career in Singapore financial futures industry since 1989. He is now a hedge advisor, professional trader and financial coach over 7 countries with numerous trading associates and corporate partners.


Sistem martingale, Alternatif manajemen resiko

Martingale adalah suatu strategi trading yang menerapkan manajemen lot seperti piramid.
Ilustrasi :

Kita membuka posisi beli 1 lot dengan target profit (TP) 10 pip. Namun target tidak tercapai, posisi bahkan terbawa hingga 30 pip . Kemudian kita buka lagi  posisi dengan jarak 30 pip dari posisi pertama dengan jumlah lot ditambah menjadi 2. Target profit untuk kedua posisi tersebut adalah 15 pip dari posisi kedua.
Berarti kita nantinya akan dapat (1 X - 15) + (2 X + 15) = 15 pip (+spread). Lalu bila pada posisi ke 2 ini level TP masih belum  tercapai dan lagi terbawa kebawah, maka kita buka lagi posisi ke -3 dengan jumlah lot yang lebih besar dan seterusnya.

Logikanya, dengan menggunakan beberapa level posisi , kita berharap harga akan bergerak sesuai arah yang kita kehendaki. Dengan demikian, sejumlah posisi yang kita buka tadi menghasilkan keuntungan pada akhirnya.

Ada sebuah sistem martingale yang menarik untuk kita bedah, namanya "Buru trader". Dimana ini mneggunakan aturan buka posisi yang sangat sederhana pada penerapan EURUSD dan atau EURGBP dengan timeframe grafik 1 menit. Sementara indikator yang digunakan adalah Stochastic (5,3,3) dan Bollinger bband (20,2). 
Aturannya adalah : posisi beli terjadi bila harga penutupan batang 1 menit telah melewati garis bawah bollinger band. sedangkan garis signal stochastic telah dibawah level 14. Posisi jual terjadi bila harga penitupan batang 1 menit telah melewati garis atas Bollinger band dan garis signal stochastic telah diatas level 86.

Kita gunakan martingale dengan urutan jumlah lot sesuai dengan urutan angka fibbonacci. Dimuali dari 1,1,2,3,5,8,13,21, dst ( angka 2 diperoleh dari penjumlahan 2 angka di depan ; 1+1, angka 3 = 1+2, angka 5 = 2+3), dst.)
Piramid yang kita pakai hingga 8 tingkat , artinya total  lot yang kita gunakan dengan 8 tingkat pemakaian adalah 48 lot. Dengan laverage 1: 100 unutk kontrak 100 ribu dollar, jumlah margin yang dibutuhkan harus diatas $50.000.

Pembukaan posisi baru (tingkat 1) dimulai pukul 09.00 WIB hingga pukul 14.00 WIB Diluar waktu tersebut, kita hanya menyelesaikan posisi yang sudah ada dengan sistem martingale . Jarak antara tiap tigkat adalah 21 pip. Jadi, misalkan kita buka posisi beli di 1.3520, maka itngkat kedua ada di 1.3499, dst.

Tabel 1 : Ilustrasi TP untuk masing - masing tingkat dan lot 

Pada tingkat 1, misalkan untuk posisi buy, kita buka 1 lot posisi baru dengan TP 10 pips. Bila tingkat 1 ini tidak terselesaikan dan keadaan -21 pip, kita buka 1 lot lagi (tingkat 2) , sehingga da 2 posisi terbuka masing-masing 1 lot. TP dari posisi pertama dibuat -7 pip, posisi kedua+14 pip sehingga total profit yang diharapkan menjadi 7 pip.

Saat kita membuka posisi baru mengapa kita tidak memberikan stop loss (SL)? Karena cara kita menangani resiko adalah dengan melakukan averaging, atau merata-ratakan posisi terbuka melalui sistem martingale tersebut.

Untuk mencapai tingkat keberhasilan yang tinggi, kita harus memeperhatikan karakter dari produk keuangan sebelum menrapkan sistem ini, kapan kita harus membuka posisi dan kapan harus menutupnya. Berapa jumlah lot yang harus digunakan serta apa strateginya bila posisi terbuka itu tidak menghasilkan profit dalam kurun waktu tertentu. 

Jangan lupa, setiap sistem tentunya harus diuji reliabilitasnya dengan demo account. Selamat mencoba !

Bila ada pertanyaan mengenai sistem ini, silakan hubungi email : arinda_widyaningtyas@yahoo.com





Selasa, 21 Juni 2011

5 Alasan penting memburu aset anti inflasi

 5 faktor krusial yang akan membuat emas layak dikoleksi pada tahun 2011 :
  1. Permintaan kuat ( data statistik)
  • Tren demand perhiasan emas naik 17 % dari 1.760 ton pada tahun 2009 menjadi 2.059 ton (2010), dengan total nilai US$81 milliar.
  • Permintaan emas dari sektor teknologi mencapai 419 ton, 12,4% lebih tinggi dibandingkan tahun 2009 seiring pulihnnya industri elektronik.
  • Permintaan investasi emas terbesar datang dari China, dengan kenaikan sebesar 70% dibandingkan tahun2009 dengan nilai total US$7 miliar. Secara glbal, demand emas batangan meningkat 63% pada kuartal IV 2010 dan 56% lebih tinggi dibandingkan 2009 dengan volume 713 ton.
  • Permintaan yang tinggi tidak didukung oleh volume persediaan di negara produsen yang hanya naik tipis 2%.
     2.  Tekanan inflasi tinggi dan suku bunga riil negatif
          Berkurangnya nilai mata uang terhadap barang akn mendorong investor untuk melindungi kekayaan via  aset berbasis emas.

     3.  Demonstrasi anti-pemerintah di Timur Tengah dan Afrika
          Instabilitas kawasan MENA ( Middle East-North Africa) akan mengalihkan minat investor dari aset beresiko ke save haven.

     4.  Pembelian Bank Sentral Dunia
          Sejak masa krisis 2008, bank sentral terus memangkas penjualan aset emas.

     5.  Rasio Hutang negara maju
          Analis Citigrup memprediksi emas akan mencapai $1500 per troy-once pada tahun 2011.